Yakin Tinggal di Eropa Itu Selalu Menyenangkan?

Apa yang kamu bayangin ketika denger kata Eropa? Jalanan yang bersih tanpa sampah, arsitektur gedung yang cantik, mantel musim dingin, sepatu boots, duduk cantik di outdoor terrace sambil menyeruput segelas kopi, cowok ganteng sejauh mata memandang, terus apalagi? Dari bayangan-bayangan di atas pastinya banyak juga orang Indonesia yang pingin bisa ngerasain tinggal di Eropa.

DSC_1445

Bangunan dengan arsitektur yang menarik di Helsinki

Bisa pake aksesoris musim dingin sekaligus foto sama Santa

Bisa pake aksesoris musim dingin sekaligus foto sama Santa

Tapi pernah gak kamu bayangin sisi gak enaknya tinggal di luar negeri? Nah! Kebanyakan orang hanya membayangkan hal-hal kerennya aja. Padahal hidup di Eropa terutama bagi orang asing dari negara-negara berkembang itu gak selalu keren. Gw masih inget betul minggu pertama gw di Finlandia, host dad ngajak gw ke salah satu bar di pusat kota. Di sana kita gak sengaja bertemu temennya host dad. Setelah perkenalan, sang teman mulai nyerocos dengan bangganya bahwa dia mempekerjakan seorang asing dari salah satu negara berkembang lulusan doctoral di negara asalnya yang saat itu sedang melanjutkan studi di Finlandia sebagai loper koran. Gw tertegun sebentar, meski harus tetep keliatan cool 😀 Sejak itu gw selalu memperhatikan loper-loper koran yang gw temui di jalan, dan bener aja mereka rata-rata bukan orang Finlandia asli dari warna kulit dan perawakannya.

Ilustrasi

Suatu hari Janne ngajak gw ke restoran kecil penjual Pizza. Gw gak melihat orang lain di sana selain seorang gadis muda yang sedang mencatat pesanan pembeli. Ketika giliran kami, selain mencatat pesanan, gadis itu pun melayani pembayaran. Setelahnya dengan cepat dia segera beranjak ke dapur yang konsepnya terbuka sehingga pelanggan bisa melihat proses pembuatan pizza. Dengan sigap dia membuka tungku oven besar yang di dalamnya sudah terdapat beberapa pizza yang sedang dipanggang, kemudian mengambil salah satu pizza yang sudah siap santap, merangkai dus sebelum memasukkan pizza ke dalamnya, mengikat dus kemudian memberikannya ke pelanggan yang sudah menunggu.

“Kenapa dia cuma bekerja sendirian?” Tanya gw heran.

Gw lihat pelanggan saat itu hanya 4 orang termasuk kami tapi sepertinya pelanggan lain memesan cukup banyak pizza.

“Di restoran kecil seperti ini, pemilik restoran akan menghemat pengeluaran dengan hanya mempekerjakan satu orang pegawai yang bisa melakukan semuanya” Jelas Janne.

Gw memperhatikan sekitar. Luas restoran keseluruhan sekitar 40 m2. Terdapat beberapa set kursi dan meja untuk yang mau bersantap di tempat. Gw mulai membayangkan betapa berat kerja gadis ini, semua harus dilakukan sendirian. Sebelum memulai jam operasional dimulai pastinya restoran ini harus dibersihkan dulu. Dan menerima pembayaran serta berurusan dengan mesin kasir haruslah disertai konsentrasi dan ketelitian untuk menghindari selisih. Meskipun kebanyakan transaksi di Finlandia sudah dilakukan secara elektronik dengan kartu debet/kredit dimana uang tunai tidak banyak beredar tapi pasti ada aja beberapa pelanggan yang membayar dengan uang tunai.

“Di Indonesia, restoran seperti ini akan mempunyai minimal 2 orang pegawai. Satu orang bertugas sebagai kasir dan satu lagi bertugas sebagai pembuat pizza dan menyiapkannya sampai siap diberikan ke palanggan. Dan biasanya tugas seorang kasir utamanya hanya menerima dan memberikan kembalian” tambah gw.

“Di sini ada saat dimana gak banyak pelanggan yang datang. Kalo pemilik restoran mempekerjaan 2 orang pegawai, maka dia tetap harus membayar gaji pegawai-pegawainya walaupun dia tidak memperoleh keuntungan. Jadi bukankah lebih baik dia hanya mempekerjakan 1 orang yang dapat mengerjakan semuanya sendiri”

Kalo gw mungkin ga akan sanggup menjalani kerja seperti itu sendirian. Bayangin aja kerja 8 jam sehari tanpa partner ditambah mesti mengerjakan segala sesuatu sendirian mulai dari bersih-bersih, bikin adonan, urusan tansaksi, bisa-bisa salah kasih kembalian kalau situasi toko lagi ramai pembeli.

Ini foto restoran pizzanya yang gw dapat dari web resminya di pizzanpaikka.fi

Kasus lainnya, saat gw menghadiri les bahasa Finlandia. Sebelum kelas dimulai ada kesempatan ngobrol dengan beberapa murid yang datang dari berbagai negara. Sebagian besar murid merupakan murid pertukaran pelajar dan sisanya merupakan pekerja asing yang mencoba peruntungannya di negeri ini. Saat itu ada seorang wanita asal Estonia yang merupakan negara tetangga dengan bangganya mengatakan kalau dia bekerja sebagai seorang cleaning service saat ditanya profesinya. Dan ada juga seorang pria asal Spanyol yang kalo tinggal di Indonesia udah pasti bakal jadi artis sinetron yang bekerja sebagai juru masak di restoran.

Ilustrasi

Pernah juga gw mengunjungi kedai kopi kecil yang masuk dalam 3 besar kedai kopi favorit versi Trip Advisor. Saat itu gw dan Janne harus menunggu beberapa menit untuk mendapatkan tempat duduk saking banyaknya pelanggan. Kedai tersebut menjual kopi dan makanan kecil sebagai pelengkap. Jumlah pelanggan di dalam kedai saat itu sekitar 20 puluhan orang. Beberapa sudah ada yang mendapatkan pesanannya sebagian lagi masih menunggu pesanan tiba. Hanya terdapat 2 orang karyawan di dalam kedai tersebut dan selama berada di sana gw perhatikan mereka tidak berhentinya melayani pelanggan. Gerakan mereka cepat dan cekatan. Entah karena mereka dilatih seperti itu atau memang budaya di sini yang serba cepat. Belum pernah gw melihat pekerja yang terlihat malas atau menunggu diperintah oleh atasannya. Semua seolah sudah tau kewajiban masing-masing dan bekerja tanpa perlu diperintah.

Ini penampakan kafenya yang gw ambil dari Google

Di Finlandia kecil kesempatan bekerja bagi orang-orang yang tidak bisa berbahasa Finlandia. Meskipun pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan kasar. Dan kalo kamu memimpikan bisa bekerja kantoran di salah satu perusahaan lokal, maka mereka akan memprioritaskan orang-orang lulusan universitas di Finlandia. Sertifikat ketrampilan akan lebih dipertimbangkan dibanding ijasah kelulusan dari universitas negara berkembang.

Namun kesenjangan sosial di negeri ini sangatlah kecil apabila dibandingkan dengan Indonesia. Tidak ada profesi pekerjaan yang dianggap sebelah mata di sini. Bahkan gaji terkecil dari pekerjaan penuh waktu tetap akan mencukupi kebutuhan bulanan si pekerja dengan standar hidup Eropa.

Contoh-contoh di atas baru dilihat dari aspek pekerjaan. Dari segi kehidupan sehari-hari pun bisa dilihat kalo orang Eropa merupakan pribadi yang mandiri dan pekerja keras. Tentunya lingkungan mempunya andil besar dalam terbentuknya karakter sesorang. Bukan gak mungkin seorang Eropa yang lahir dan besar di Indonesia akan mempunya sifat mirip dengan orang Indonesia yang terbiasa di dilayani.

Hari pertama gw menginjakkan kaki di rumah host family. Sipe – salah satu host brother – yang waktu itu umurnya 2,5 tahun sudah lancar memanjat dan menuruni anak tangga dengan kemiringan sekitar 70 derajat pada sisi trampolin. Dia juga dapat naik-turun tangga menuju lantai 2 rumahnya dengan cepat. Bukan cuma itu aja, pada waktunya makan pun dia akan mencuci tangan sebelum menuju meja makan dan sudah mampu makan sendiri tanpa bantuan orang dewasa! Menurut gw, hal-hal tersebut merupakan kemajuan yang pesat banget untuk seorang anak umur 2,5 tahun. Sementara itu di Indonesia seorang anak dengan umur yang sama biasanya masih akan dilarang oleh orang tuanya untuk benar-benar mengeksplorasi lingkungan sekitar, apalagi memanjat tangga dengan kemiringan 70 derajat.

Begini kira-kira penampakan anak tangga pada sisi trampolin

Contoh selanjutnya yaitu yang baru saja gw alami dan saat ini masih berjalan. Beberapa bulan yang lalu gw dan Janne memutuskan membeli rumah di kawasan yang agak jauh dari pusat kota. Saat itu kami tinggal di sebuah apartemen yang jaraknya hanya 7 menit berjalan kaki ke pusat kota. Kebetulan kami mendapat tawaran menarik atas rumah dengan kondisi yang membutuhkan beberapa renovasi ini. Singkatnya kami memutuskan membeli rumah tersebut.

Kalo di Indonesia, pindahan bukanlah hal yang berat. Tinggal telepon beberapa tukang yang siap membantu dengan imbalan sedikit uang selesailah masalah. Masa-masa pindahan disini sangatlah berat bagi gw yang masih bermental Indonesia. Bayangin aja kami harus mengangkut barang dari lantai 4 apartemen menuju tempat parkir tanpa lift. Kebanyakan apartemen di sini memang tidak dilengkapi lift. Ada seorang teman yang datang untuk membantu mengangkat barang yang berat seperti ranjang dan lemari dikarenakan gw ga kuat buat angkut berdua doang dengan Janne. Tapi percayalah kami masih harus bolak balik puluhan kali untuk mengeluarkan semua barang.

“Kenapa kita gak sewa tukang aja sih untuk bawa barang-barang ini?”

“Karena sewa van sekaligus 2 orang tukang angkut bisa mencapai 75 euro per jam”

Jawaban Janne langsung bikin gw berhenti komplen perihal tersebut. Dalam hati gw mulai berpikiran andai para kuli angkut di Indonesia mendapat bayaran yang sama pasti mereka dapat hidup makmur.

Selesai pindahan munculah kewajiban baru : renovasi. Jujur seumur hidup gw belum pernah mneyentuh aktivitas pertukangan. Sama seperti rata-rata orang Indonesia yang hidup di perkotaan, definisi dari renovasi berarti merubah tampilan rumah menjadi lebih cantik dengan bantuan para tukang. Ya gak sih?!

Gak semua orang di Eropa mengerjakan renovasi sendirian. Yang mampu membayar tukang juga ada. Tapi kebanyakan akan mengerjakan sendiri selagi mereka mampu. Hal pertama yang kami lakukan begitu menempati rumah baru yaitu melepas wallpaper. Kedengarannya sederhana sih, tinggal oles wallpaper remover, diamkan beberapa saat terus keletek deh. Nyatanya praktek gak semudah teori. Butuh waktu 1 minggu sampai kami selesai melepas seluruh wallpaper di salah satu kamar tidur. Belum lagi mengecat dinding dan bingkai jendela. Janne bilang sekarang gw udah lihai mengecat loh 🙂 Bangga! Saat ini kami sudah sampai pada tahap mengganti lantai kamar tidur tadi dengan lantai laminate. Meskipun ruangan yang lain masih menunggu renovasi tapi bangga juga lihat hasil kerja keras kami. Sekarang kamar tidurnya jadi terlihat lebih cantik.

WP_20150514_008

Sebelum renovasi

WP_20150704_13_13_22_Pro

Setelah renovasi

Perlu diingat juga pada saat musim dingin orang Eropa akan tetap bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Tidak ada yang bersembunyi dibalik selimut seharian pada cuaca terdinginpun.

Pernah suatu hari di suhu terdingin pada musim dingin tahun lalu gw harus mengantarkan host brother ke päiväkoti yang jaraknya 15 menit jalan kaki dari rumah host family. Saat itu suhu -19,6 derajat. Long john udah jadi atribut sehari-hari pada masa itu, kaus kaki dan sarung tangan juga sudah 2 lapis. Yang gw ingat pada saat jalan kaki selama 15 menit itu terasa seperti 1 jam. Ketika angin mulai berhembus, yang gw rasakan bukanlah angin tapi perih seperti tertusuk pada bagian wajah yang tidak tertutup syal. Yang lebih parah, menurut orang Finlandia musim dingin tahun lalu bukanlah yang terdingin. Suhu terdingin yang dapat dicapai pada musim dingin di Kuopio adalah -30 derajat!

Begini kondisi jalan pada saat suhu -20 derajat

Begini kondisi jalan pada saat suhu -20 derajat

Terlepas dari keindahan alam, bentuk bangunan, segarnya udara yang bebas polusi di negeri ini, setidaknya dari pengalaman-pengalaman di atas kita bisa melihat Eropa dari sudut pandang yang berbeda.

“Setelah membaca artikel ini apakah kamu masih berfikir kalau tinggal di Eropa itu selalu menyenangkan?”

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: Tinggal di Luar Negeri = Orang Sukses? | Cerita Diah
  2. adilah vicky
    Mar 28, 2017 @ 18:52:50

    hahaha .. bener bngt kak! aku lagi Jerman dan gak semua kehidupan disini menyenangkan seperti yang dibayangakn orang-orang di Indonesia. anw kaka kerja apa? kok ada Hostfam-nya?

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

July 2015
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: