Gili Trawangan Itu Indah Sih, Tapi…

Waktu mudik ke Indonesia bulan Mei lalu gw dan Janne memang sengaja menyiapkan liburan pantai untuk bulan madu kami. Tujuan awal waktu itu adalah Pantai Ora. Pantai ini terletak di Maluku Tengah. Pantai Ora dapat ditempuh dengan menggunakan perahu dari pelabuhan di Desa Sawai, Pulau Seram. Dengan lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk dan dikelilingi tebing, pantai ini menawarkan suasana private bagi wisatawan yang datang. Ini foto yang bikin Janne makin ngebet pergi kesana :

Sayangnya setelah gw googling lebih lanjut ternyata air bersih tidak selalu tersedia di sana, secara konsep resort pun merupakan eco resort jadi air yang selalu tersedia adalah air payau. Air bersih ini penting banget buat gw, rasanya gak nyaman aja kalau mandi pakai air payau takut nantinya tersugesti kalau badan masih lengket dan kotor.

Akhirnya destinasi harus dirubah. Saat itu yang ada di pikiran gw destinasi haruslah ke salah satu pantai di Indonesia. Ingatan gw kembali pada saat kami menghadiri Christmas Gala Dinner tahun lalu yang diadakan oleh JCI Finlandia, saat itu salah satu teman Janne mengatakan kalau ada beberapa orang temannya yang mengunjungi Gili Trawangan. Bangga sekaligus takjub apalagi saat denger kalo ternyata Gili Trawangan merupakan salah satu tujuan wisata yang cukup populer bagi traveler asal Finlandia. Dari situ gw mulai google akomodasi dan transportasi menuju ke sana. Janne yang waktu itu masih ngebet pingin pergi ke Pantai Ora akhirnya harus menyerah demi keinginan istri tercintanya πŸ˜€

Dari Bandara Soekarno – Hatta kami terbang menuju Lombok International Airport menggunakan pesawat Lion Air. Penerbangan memakan waktu 1 jam 55 menit. Kami sengaja gak mengambil paket tur supaya merasakan petualangan yang sebenarnya. Dari Bandara Lombok kami menumpang bus Damri jurusan Senggigi dengan harga tiket Rp. 40,000,- per orang. Bus Damri ini pangkalannya berada tepat di seberang pintu keluar bandara. Kalo berdasarkan hasil baca trip reportnya para traveler yang sudah pernah ke Gili Trawangan, dari SengigiΒ kami dapat menyewa taksi untuk menuju ke Pelabuhan Bangsal dengan ongkos sekitar Rp. 100,000,-.

Hampir 2 jam sudah perjalanan kami dengan bus Damri ketika sang sopir menanyakan apakah kami bermaksud menuju Pelabuhan Bangsal. Gw mengiyakan. Saat itu sisa penumpang hanya 6 orang termasuk gw dan Janne. Sang sopir pun bicara dengan 4 orang penumpang di belakangnya yang ternyata mempunyai tujuan yang sama, kemudian inisiatif menelepon temannya yang seorang sopir mobil carteran untuk mengantarkan kami. Waktu itu gw ngotot kalo bakal pake taksi aja, demi menghindari penipuan harga. Tapi sang sopir bilang kalau harga sewa fleksibel dan bisa dibagi dengan 4 penumpang yang lain.

Gak lama bus menepi di pinggir jalan dan naiklah seorang mas-mas yang ternyata adalah sopir mobil charteran yang sebelumnya dihubungi oleh sopir bus. Tawar menawar dilakukan sampai didapat kesepakatan di harga Rp. 180.000,- untuk mengantarkan kami berenam sampai ke dalam Pelabuhan Bangsal. Sebagai informasi taksi tidak diijinkan masuk ke dalam pelabuhan, melainkan hanya sampai portal sebelum pelabuhan. Dari portal tersebut jarak ke pelabuhan hanya 10 menit jalan kaki. Bagi yang malas berjalan kaki dapat menyewa andong yang mangkal di sekitar portal.

Ketika membeli tiket kapal feri menuju Gili Trawangan ada 2 macam tiket yang tersedia yaitu tiket kapal reguler atau kapal cepat. Kapal reguler berangkat apabila telah memenuhi kuota 40 orang penumpang dengan harga tiket Rp.18.000,-/orang dan waktu tempuh sekitar 30 menit sedangkan kapal cepat berangkat mengikuti jadwal berapapun jumlah penumpangnya dan waktu tempuh yang singkat hanya 10 menit, harga tiket Rp. 80,000,-/orang. Sempet tergoda untuk beli tiket kapal cepat karena kondisi badan yang sudah capek, ditambah ketika gw tanya kuota penumpang yang sudah terdaftar ternyata masih 16 orang. Tapi dipikir-pikir kami disana untuk liburan yang tidak dikejar waktu akhirnya gw putuskan untuk beli tiket kapal reguler aja. Padahal alasan yang sebenarnya sih karena perbedaan harga yang jauh ;P

Cuma butuh sekitar 20 menitan sampai kapal mencapai kuota penumpangnya. Bagi yang pergi dengan membawa koper besar sangat tidak disarankan menaiki kapal ini. Untuk naik ke atas kapal kita harus melalui bibir pantai dulu ditambah ukuran kapal yang kecil untuk kuota penumpang sebanyak 40 orang.

Kondisi feri dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan

Kondisi feri dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan

Sampai di Gili Trawangan kami terpesona dengan keindahan pantainya. Dari mulai kami menuruni kapal feri di pelabuhan sampai saat kami berjalan menyusuri pulau untuk menuju hotel.

Pelabuhan kapal feri di Gili Trawangan

Pelabuhan kapal feri di Gili Trawangan

Kendaraan bermotor dilarang untuk beroperasi di Gili Trawangan sejak tahun 1990-an dikarenakan ukuran pulaunya yang kecil. Penduduk pulau biasanya berjalan kaki atau menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari 1 jam untuk mengelilingi pulau dengan sepeda. Di sekitar pulau banyak berjamur tempat penyewaan sepeda dengan harga variatif tergantung kelihaian menawar dan warna kulit mulai dari Rp.35,000,- sampai 50,000,- per hari. Biasanya pemilik rental akan membedakan harga sewa untuk turis lokal dan mancanegara *pengalaman akibat bawa bule*. Alat transportasi lainnya adalah cidomo yaitu gerobak dengan 2 roda yang ditarik oleh seekor kuda.

Begini penampakan cidomo

Begini penampakan cidomo

Terkait pelarangan beroperasinya kendaraan bermotor di Gili Trawangan, sayangnya saat liburan disana selama 6 hari gw mendapati 2 orang warga yang mengendarai skuter listrik. Terdapat juga spanduk iklan yang menawarkan skuter listrik di beberapa tempat.

Ironisnya jumlah turis lokal di pulau ini sangatlah sedikit. Mayoritas turis yang datang adalah bule-bule berkulit putih, selanjutnya turis dari negara Asia, turis lokal hanya sekitar 10% dari total turis yang berada di sana. Gw rasa jumlah turis Indonesia yang pernah berkunjung ke Singapura pastilah jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan turis Indonesia yang pernah mengunjungi Gili Trawangan.

Memang jika dibandingkan, dengan waktu tempuh yang hampir sama harga tiket pesawat dari Jakarta ke Singapura jauh lebih murah dibanding harga tiket dari Jakarta menuju Lombok. Tapi kalau dibandingkan secara umum dari biaya hidup dan akomodasi akan lebih murah berlibur di Gili Trawangan.

Selama di sana kami menginap di Jambuluwuk Oceano Resort yang sudah kami booking sebelumnya melalui Agoda dengan type kamar Superior Lumbung. Kelebihan hotel ini adalah kamarnya yang luas (25 m2 untuk type kamar ini) serta terdapat teras yang besar berikut sofa pada setiap kamar serta keramahan para staff hotel. Menu sarapan juga cukup variatif, meskipun rasanya so-so. Rate harga yang sebesar 44euro/malam atau sekitar Rp. 650,000,- gw rasa kemahalan untuk hotel ini. Bukan karna rasa masakannya melainkan kebersihan kamar yang masih kurang. Gw sendiri bukan tipe orang yang terlalu memperhatikan detail tapi karena kekurangan ini terlihat jelas jadi cukup menggangu. Room service datang setiap hari untuk membersihkan kamar, yang mana memang seharusnya. Tapi entah kenapa mereka seolah hanya fokus pada lantai. Gw perhatikan selama gw menginap, mereka tidak pernah melap kaca bagian bawah meja yang berada di bawah wastafel. Ditambah wastafel yang mampet bahkan setelah diperbaiki oleh teknisi hotel. Ini foto depan kamar yang gw ambil dari web resminya oceanojambuluwukresort.com

Pemandangan depan hotel

Pemandangan depan hotel

Pantai di depan hotel yang akan surut airnya di sore hari

Pantai di depan hotel yang akan surut airnya di sore hari

Selama liburan, gw dan Janne nyoba makanan dari mulai warung nasi sampai kafe. Buat budget traveler warung nasi ini merupakan pilihan terbaik karena selain rasanya enak, harganya juga murah. Satu piring nasi campur (nasi dan lauk) dihargai mulai Rp.20.000,-. Namun untuk menemukan warung nasi ini memang agak susah karena jumlahnya yang sangat sedikit. Untuk bersantap di kafe-kafe pinggir pantai bisa menghabiskan setidaknya Rp.50.000,- per orang.

Menjelang malam wisatawatan biasanya akan menuju pasar seni. Di Pasar Seni ini terdapat satu kawasan dimana terdapat banyak warung makan seafood yang menawarkan harga sedikit lebih murah dibanding harga kafe. Toko souvenir juga banyak terdapat di kanan kiri jalan.

WP_20150603_19_55_05_Pro

Foto ini gw ambil dari dermaga depan Pasar Seni

Pada hari ketiga liburan, gw dan Janne mengambil paket tur senorkeling ke 3 pulau; Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno dengan harga Rp.100.000,-/orang. Durasi tur ini adalah 4 jam termasuk makan siang selama kira-kira 1 jam di Gili Air.

Tips untuk yang mengikuti tur ini namun ingin menghemat biaya makan siang : setalah kapal berlabuh di Gili Air, guide akan membawa peserta tur ke kafe yang berada tepat di pinggir pantai depan pelabuhan. Harga makanan di kafe tersebut menurut gw mahal banget (50 ribu keatas), dengan kualitas rasa yang gatau deh kaya gimana. Terdapat warung nasi lokal yang menjual nasi goreng lezat dengan harga Rp.20,000,- aja per porsi apabila kamu berjalan ke arah kiri sekitar 10 menit dari kafe tersebut.

Ketika akan kembali ke Jakarta, karena Janne tidak percaya dengan sopir yang mengantar kami tempo hari akhirnya kami mulai membandingkan harga sewa mobil dari Pelabuhan Bangsal menuju bandara lombok. Kami mendatangi salah satu travel agent yang banyak bertebaran di sekitar pelabuhan dan didapat harga Rp. 400.000,- untuk private car. Kemudian dari pihak hotel kami mendapat tawaran dengan harga lebih baik yaitu Rp.350.000,- untuk private car. Meskipun kami sedikit tidak puas dengan mobil yang menjemput di Pelabuhan Bangsal karena kondisi mobil yang menurut gw perlu banyak perbaikan, ban belakang pun seperti kebanyakan angin. Ketika gw komplen, sang sopir cuma bilang kalo itu ga masalah. AC pun udah gak berfungsi lagi. Padahal tadinya gw pikir pihak hotel pastilah dapat dipercaya untuk menjamin kenyamanan tamunya selama perjalanan pulang, ternyata gw salah 😦

Penyesalan emang selalu datang belakangan guys, tapi daripada sedih-sedihan mending dinikmati aja foto-foto hasil liburan bulan madu gw dan Janne πŸ™‚

WP_20150601_18_01_14_Pro

WP_20150601_18_33_45_Pro

WP_20150602_17_59_54_Pro

Pelangi yang muncul sehabis hujan

WP_20150602_18_13_33_Pro

WP_20150604_18_23_41_Pro WP_20150606_07_43_00_Pro

Setuju kan kalo pantai di Gili Trawangan itu indah banget?? Tapi sayangnya ketika gw eksplore ke bagian tengah pulau, ini yang gw temuin

WP_20150604_10_38_17_Pro

Gunung sampah di tengah pulau

Gw menemukan segunung sampah di tengah-tengah pulau! Sebagai perbandingan, kamu bisa perhatikan banyak sapi coklat yang berdiri diatasnya. Kebayang dong itu sampah banyaknya kaya apa. Sayang banget kan kalo Gili Trawangan hanya keliatan indah dari luarnya aja. Kalo dibiarkan dalam beberapa tahun ke depan pasti sampahnya akan bertambah berkali-kali lipat. Alangkah baiknya apabila terdapat cara penanggulangan sampah yang tepat daripada hanya menimbunnya di tengah pulau.

Contact sopir yang mengantar dari Senggigi menuju Pelabuhan Bangsal : 0818-0362-9777 (Mas Uye)

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. ekoandriyan
    Mar 20, 2016 @ 01:19:41

    detil sekali,
    mantap,
    ok to be honest Lombok itu my hometown, bahkan saya sendiri belum pernmah ke 3 Gili itu
    :p

    Like

    Reply

    • Diah
      Mar 22, 2016 @ 13:40:48

      wah orang lombok sendiri malah belum pernah, padahal deket looh dan patut dikunjungi juga, gak nyesel deh kesana πŸ™‚

      Like

      Reply

      • ekoandriyan
        Mar 23, 2016 @ 02:54:20

        hehe, paling banter senggigi, cuman pas SD nempel sama ortu, high school smp-sma di asrama, jadi ga banyak tau dunia luar, (tapi masa abg ini malah sempat Stud. Exchange summer 2006 ke US ),
        lalu menghabiskan masa kuliah di jogja. jadi kalau luar pulau baru tau Bali-Jawa, Malah sumbawa yg masih 1 propinsi, yg cuman nyebrang ferry aja ga pernah. hehe

        Like

  2. wulan
    Mar 14, 2017 @ 14:39:07

    membantu sekali review nya mba diah..
    kalo boleh tau knp suaminya ga terlalu percaya sama driver yg nganterin ke senggihgi? sedangkan mba sendiri kasih rekomen dg mencantumkan nomor mas drivernya. bls please

    Like

    Reply

    • Diah
      Mar 14, 2017 @ 18:55:29

      Hai Wulan, suamiku itu ketakutan kena scam kalo bukan dari hotel langsung. Padahal pas perjalanan ke pelabuhan pas menuju Gili kita pakai driver itu juga dan gak masalah sih.

      Like

      Reply

      • wulan
        Mar 15, 2017 @ 06:27:01

        kalau untuk mas uye nya sendiri rekomen ga mba diah? mobilnya fit ga? trus dia aman (bisa dipercaya) ga? aku udah kontak mas uye nya langsung sih. soal harga dia okelah..
        soalnya akhir bulan ini ada rencana mau ke lombok dan masih bingung cari Transport juga..

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

July 2015
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: