Wisata Unik Kota Amsterdam

Dalam perjalanan kembali ke Finlandia dari Jakarta, pesawat yang kami tumpangi sempat transit selama 14 jam di Amsterdam. Sebenernya kita memang udah niat untuk jalan-jalan di pusat kota selama masa transit tapi cuma sebatas niat aja. Gak ada persiapan itinerary atau pencarian tempat wisata yang dapat dikunjungi sebelum kami mendarat di sana.

Tiba di bandara Schipol sekitar jam 6 pagi kami langsung menuju Tourist Information dimana kami dapat membeli tiket 1-Day Travel Ticket seharga 15 euro. Dengan tiket ini kita bebas menggunakan kereta api, tram, bus, metro (kereta bawah tanah), dan feri yang menghubungkan pusat kota dengan Amsterdam Noord (salah satu wilayah di Amsterdam) yang dipisahkan oleh danau IJ selama masa berlaku tiket. Yang harus diingat adalah untuk selalu melakukan check in ketika naik dan check out ketika turun dari transportasi tersebut dengan cara menempelkan kartu ke card reader. Apabila kita lupa melakukan check in atau check out maka tiket otomatis akan terblokir dan tidak dapat digunakan lagi.

WP_20150610_07_43_45_Pro

Untuk menuju ke pusat kota, kami naik kereta dari airport dengan tujuan stasiun Amsterdam Centraal. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Stasiun Amsterdam Centraal ini letaknya persis ditengah-tengah pusat kota. Terdapat beberapa tempat wisata di pusat kota yang dapat dicapai dengan berjalan kaki, diantaranya Dam Square dimana terdapat The Royal Palace dan Museum Madame Tussauds, Albert Cuyp Market yang merupakan pasar kaki limanya Eropa, dan Red Light Distric.

Karena waktu yang masih pagi – saat itu kami tiba di pusat kota sekitar pukul 7.30 – jalan-jalan pun masih belum terlalu ramai oleh para turis, kebanyakan toko dan cafe juga masih tutup. Rata-rata cafe dan restoran yang berada tepat dipinggir kanal baru mulai operasioanal pada pukul 10 pagi. Akhirnya kami memutuskan untuk melihat-lihat dulu sambil mengambil beberapa foto.

WP_20150610_08_04_12_Pro

Stasiun Amsterdam Centraal

Kota Amsterdam selain dipenuhi oleh bangunan khas Eropa juga menawarkan keindahan lain berupa kanal-kanal sehingga mendapat julukan “The Venice of The North” atau Kota Venice dari utara. Salah satu kanal di depan stasiun Amsterdam Centraal;

WP_20150610_08_04_39_Pro WP_20150610_08_12_53_Pro

Terdapat beberapa agen yang menawarkan tur keliling kanal dengan perahu selama 1 jam dengan harga tiket mulai 10 euro. Sayangnya karena masih pagi agen-agen tersebut belum mulai operasional.

WP_20150610_08_13_17_ProWP_20150610_08_16_55_Pro

Sampai di Dam Square kami mampir ke kedai kopi untuk beristirahat sekaligus sarapan.

WP_20150610_08_36_37_Pro

Selesai sarapan kami melanjutkan tur mulai dari Dam Square dimana terdapat The Royal Palace dan museum Madame Tussauds. Tidak ada tembok pembatas yang tinggi atau penjaga di luar istana, sangat berbeda dengan The Royal Palace yang pernah kami kunjungi di Stockholm.

WP_20150610_08_25_37_Pro

Selfie depan monumen di Dam Square

WP_20150610_08_27_24_Pro

The Royal Palace

Dari Dam square kami hanya mengikuti kemana kaki melangkah, menikmati keindahan dan keunikan kota dari berbagai sudut.

WP_20150610_14_15_56_Pro

WP_20150610_12_52_12_Pro

Siang hari kondisi jalan dipenuhi oleh turis

WP_20150610_09_21_32_Pro

WP_20150610_08_59_47_Pro

WP_20150610_10_01_53_Pro

WP_20150610_09_55_44_Pro

Amsterdam memang berbeda dengan kota lain di Eropa. Sebagai seorang Finlandia yang taat peraturan, Janne sedikit kaget dengan kondisi di Amsterdam dimana banyak pejalan kaki yang menyebrang tanpa menghiraukan rambu lalu lintas. Bisa jadi hal tersebut dikarenakan banyaknya pendatang dan turis yang datang dari berbagai macam negara. Yang pasti sebagai seorang mantan warga Jakarta, gw udah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Hidup pelanggar aturan 😀

Cara lain untuk berkeliling selain berjalan kaki adalah bersepeda. Terdapat beberapa tempat penyewaan sepeda di pinggir jalan dengan harga 12 euro seharian. Bukan hanya turis, warga lokal pun tidak sedikit yang mengunakan sepeda sebagai transportasi. Kamu akan melihat pekerja kantoran lengkap dengan jas dan dasi yang pergi ke kantor dengan sepeda. Yang unik dari sekian banyaknya pengendara sepeda di Amsterdam hanya sedikit aja yang peduli keselamatan dan memakai helm. Kebalikan dengan Finlandia dimana hampir semua pengendara sepeda menggunakan helm untuk keselamatan.

Hanya di Amsterdam kamu bisa menemukan toko yang terang-terangan menjual magic mushroom dan cannabis atau daun ganja. Terdapat berbagai macam bentuk dari Cannbis yang bisa kamu temui di sana, dari mulai permen sampai teh yang dapat diseduh. Bukan hal yang mengejutkan sih karena mereka dilegalkan di negara tersebut. Tapi ingat, kedua barang tersebut hanya boleh dikonsumsi selama kamu berada di sana aja. Jangan coba-coba membawa mereka sebagai oleh-oleh karena di negara lain belum tentu barang tersebut dilegalkan, terutama Indonesia yang bisa terancam hukuman mati apabila tertangkap membawa obat-obatan terlarang, hiiiy! Pengalaman gw selama berada di sana, ketika berjalan melewati beberapa kedai kopi, bukan hanya aroma kopi yang tercium dari luar melainkan juga aroma dari asap cannabis yang dibakar.

WP_20150610_09_13_20_Pro

WP_20150610_12_54_10_Pro

Selain legalnya kedua barang terlarang di atas, satu lagi yang menjadi daya tarik kota ini dan dilegalkan adalah wisata khusus dewasanya. Ada satu sudut di kota ini yang dikenal dengan Red Light District. Di kawasan tersebut banyak terdapat toko dewasa, dengan display dan gambar-gambar vulgar dipajang di depan toko.

WP_20150610_09_02_29_Pro

Salah satu toko dewasa di kawasan Red Light Distric

Gw sempet juga mengunjungi satu-satunya toko yang mempunyai jam operasional paling awal dibanding toko lain, setidaknya ini pengakuan dari penjaga toko waktu itu. Agak malu juga berkunjung ke toko dewasa, tapi didorong rasa penasaran akhirnya masuk juga gw kesana. Melihat-lihat ‘aksesoris’ yang dijual disana bikin gw senyum-senyum sendiri . Buat yang pernah nonton film Fifty Shades of Grey, koleksi Mr Grey di dalam playroom-nya tidaklah seberapa dibanding koleksi di toko tersebut.

Bukan cuma banyaknya toko dewasa, di kawasan Red Light District juga terdapat deretan showroom sepanjang gang kecil dimana pengunjung dapat melihat-lihat dan membeli ‘jasanya’ apabila tertarik. Showroom yang gw maksud disini bukanlah toko yang menjajakan makanan atau pakaian, melainkan tempat para pekerja prostitusi menjajakan jasanya. Showroom ini hanyalah sebuah kamar dengan luas sekitar 2,5 m2 yang dilengkapi sebuah kursi di dalam serta jendela yang amat lebar di bagian depannya dimana pengunjung dapat melihat dengan jelas isi dalam kamar kecil tersebut. Pada malam hari, masing-masing kamar akan ditempati seorang wanita. Waktu masih menunjukan sekitar pukul 3 sore waktu ketika gw secara gak sengaja melewati kawasan tersebut kembali dan mendapati sudah ada beberapa wanita dengan kostum menggoda dan make up tebal yang mengisi ruang-ruang tersebut. Agak mengejutkan juga mengetahui mereka mulai bekerja sangat awal.

Sebagai pelengkap wisata khusus dewasa, terdapat juga Sex Museum yang terdapat di tengah kota. Salah satu figure yang berada di dalam museum.

WP_20150610_17_00_19_Pro

Kembali ke kawasan wisata normal lainnya yang tidak boleh dilewatkan diantaranya yaitu Amsterdam Windmills. Terdapat beberapa Windmills atau kincir angin yang tersebar di pusat kota, ini satu diantaranya

WP_20150610_10_11_52_Pro

Jangan lupa juga untuk mengunjungi pasar kaki lima versi Eropa dengan mengunjungi Albert Cuyp Market yang populer sejak tahun 1900an. Pasar ini terletak di Albert Cuypstraat 1072 CN dengan waktu operasional setiap hari Senin sampai Sabtu mulai pukul 09.00 – 17.00 dan merupakan pasar terbesar di Belanda. Terdapat lebih dari 300 orang pedagang dimana kamu dapat menemukan mulai dari produk makanan, make up, pakaian, alas kaki, baterai handphone sampai souvenir khas amsterdam dengan harga yang murah bagi standar Eropa. Sayangnya kebanyakan pakaian dan alas kaki yang berharga murah bukanlah berasal dari Belanda melainkan dari China. Terdapat pula kedai kopi di sepanjang pasar dimana kamu bisa duduk-duduk beristirahat sambil menikmati situasi pasar.

WP_20150610_10_36_25_Pro

WP_20150610_10_39_33_Pro

Pasar lainnya yang patut dikunjungi terutama bagi pecinta tumbuhan adalah Bloemenmarkt yang merupakan satu-satunya pasar terapung di dunia yang menjual bunga dan tanaman lain. Jangan bayangkan perahu terapung yang menjajakan bunga, karena toko-toko ini adalah semacam rumah perahu yang merapat ke daratan. Jadi ketika berjalan-jalan di pasar kamu mungkin akan bertanya-tanya bagian mana yang terapung dari pasar ini.

WP_20150610_12_53_47_Pro

Pasar Bloemenmarkt dari sisi belakang yang gw ambil dari Wikipedia

Di Amsterdam, selain pasar terapung terdapat juga rumah tinggal yang terapung di pinggiran kanal.

WP_20150610_10_13_22_Pro

Untuk lebih jelasnya, ini gambar yang gw ambil dari travelblog.org

Wisata yang ditawarkan oleh Amsterdam memang beragam dan unik. Namun menurut gw yang masih berjiwa seorang timur, kota ini bukanlah kota yang cocok untuk berwisata bersama anak kecil karena dilegalkannya magic mushrooms, cannabis dan prostitusi. Akibatnya sangatlah mudah menemukan barang-barang tersebut di pajang di depan toko, konten dewasa pun tidak hanya ditemukan di kawasan Red Light Distict aja melainkan tersebar di pusat kota.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

July 2015
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: