Nikah Sama Bule Itu Gak Selalu Happily Ever After, Loh!

Gw mungkin bisa dibilang salah satu wanita beruntung karena mempunyai suami dengan sifat campuran antara pria bule dan Asia. Menyiapkan sarapan, mengantarkan ke halte bus setiap pagi ketika gw berangkat kerja yang hanya berjarak 300 meter dari rumah, membujuk ketika gw ngambek, dan mengerjakan hampir semua pekerjaan lelaki dalam rumah tangga kami contohnya. Dengan disamaratakannya derajat pria dan wanita dalam dunia barat, otomatis semua jenis pekerjaan apapun gak terbentur hanya untuk wanita atau pria saja. Hal ini juga berlaku dalam rumah tangga. Pekerjaan memotong rumput, membetulkan pipa bocor atau renovasi rumah yang di Indonesia identik dengan pekerjaan para suami, disini pekerjaan tersebut merupakan tanggung jawab kedua pihak bukan hanya suami saja. Kebanyakan orang beranggapan kalau nikah sama bule pasti akan selalu mendapat romantisme, dihujani banyak pujian, diajak traveling keliling dunia, dan mempunyai hidup yang mudah. Nyatanya gak semua pelaku kawin campur selalu diperlakukan bagai “Ratu” dalam kehidupan perkawinannya.

Gak sedikit pelaku kawin campur yang menikah dengan pasangannya hanya setelah beberapa kali pertemuan. Alasannya karena tidak tahan terpisahkan oleh jarak atau udah terdoktrin bahwa menikah dengan bule udah pasti akan hidup senang. Yang akhirnya menjalani kehidupan perkawinan dengan bahagia banyak, tapi gak gak sedikit juga yang ternyata hidup jauh dari bayangannya sebelum menikah. Meskipun kebanyakan akan menutupi borok dalam rumah tangganya karena tidak mau terlihat gagal terutama oleh keluarga, teman atau kenalan dari tempat asalnya.

Seperti yang dialami oleh salah seorang teman gw yang berasal dari Afrika. Sebut saja namanya Mawar – hihihii…akibat terlalu sering menonton TV 😀 Mawar bertemu dengan suaminya melalui situs online dating. Sang pacar memutuskan terbang ke Afrika untuk menemui Mawar setelah mereka berhubungan selama 6 bulanan dan kemudian memutuskan untuk menikah pada saat kedua kalinya sang pacar mengunjungi Mawar. Hidup di Eropa ternyata gak seindah bayangan Mawar karena mahalnya biaya hidup terlebih karena rendahnya gaji sang suami menurut standard Eropa sehingga Mawar mesti pintar-pintar mencari toko yang mempunyai harga lebih murah dibanding toko lain ketika berbelanja, meskipun perbedaannya hanya beberapa sen saja. Keinginan Mawar untuk membantu perekonomian rumah tangga pun pupus karena sulitnya mendapat pekerjaan bagi imigran yang belum bisa berbahasa Finlandia. Bantuan dana dari pemerintah bagi pengangguran juga belum didapatkan oleh Mawar. Ditambah sifat asli sang suami yang sangat cuek terhadap sang istri. Sering Mawar mengeluh karena sikap suaminya yang dingin, tidak pernah memberikan pujian, pergi menjauh ketika sang istri ngambek serta sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uang namun demi menjaga gengsi Mawar memilih merahasiakan hal ini kepada keluarga maupun teman-temannya di Afrika. Kondisi ini berlangsung sejak awal pernikahan sampai sekarang. Beberapa hari yang lalu Mawar mengirim pesan ke gw menceritakan kalau sudah tidak tahan dengan sikap sang suami dan berniat untuk selingkuh karena kurangnya kasih sayang yang didapat dari sang suami.

Jika ditilik dari sifat pria Eropa, suami Mawar yang bersikap dingin terhadap istrinya tidaklah seburuk dugaan Mawar. Mungkin saja sang suami hanya menyamakan perlakuan yang diberikan para pria Eropa ke pasangan wanita Eropanya kepada Mawar yang notabene berasal dari Afrika dengan kebudayaan yang berbeda dengan negara-negara Eropa. Sayangnya mereka tidak mempunyai waktu yang cukup untuk betul-betul mengenal watak asli dari pasangannya.

Gw pernah nulis kalau gaji seorang pekerja paling rendah sekalipun di sini akan cukup untuk menunjang kehidupannya selama satu bulan dengan gaya hidup orang Eropa. Namun perlu digarisbawahi bahwa hal tersebut berlaku untuk menunjang kehidupan satu orang saja. Orang tua tunggal merupakan pengecualian karena akan mendapat bantuan dari pemerintah untuk anak-anaknya. Namun apabila dengan gaji rendah tersebut harus menanggung kehidupan sang istri juga maka akan sangat ketat, bahkan dengan gaji yang diatas rata-rata pun apabila ingin hidup berkecukupan diperlukan sokongan dari sang istri yang bekerja.

Kisah kelam yang dialami teman gw tersebut hanya satu dari sekian banyak kisah kelam antara pelaku kawin campur. Untuk kisah kelam yang dialami oleh beberapa wanita Indonesia dengan warga Belanda dapat dibaca pada blognya Mba Nela di sini.

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. Mita
    Feb 15, 2016 @ 11:46:28

    Halo Mbak Di, InsyaAllah dlm bbrp bulan ini saya akan menikah dengan pria Perancis. Baca artikel ini jadi… gimana gitu. Hehe. Jika berkenan, ada bbrp yg ingin sy tanyakan. Ada kontak whatsapp atau bbm?

    Like

    Reply

    • Diah
      Feb 20, 2016 @ 12:07:38

      Hai Mita,

      Waduh tujuan artikel ini bukan nakut-nakutin loh cuma sebagai antisipasi aja hihiii ;p Selamat dulu udah mau berubah status bentar lagi.

      Mau tanya-tanya boleh kok, emailku dhee8985@gmail.com sebisa mungkin aku jawab kalo gak susah pertanyaannya 🙂

      Like

      Reply

  2. astiitah.as
    Jun 14, 2016 @ 08:39:46

    Duh kasihan juga ya, kalo sampe bernasib kayak Mawar. Salahnya juga mba, kok cuma dua kali ketemu udah berani diajak nikah hehee..

    Salam kenal mba 🙂

    Like

    Reply

    • Diah
      Aug 09, 2016 @ 08:09:15

      Haii.. salam kenal juga!Nasib mawar itu umum loh di komunitas mixed marriage, banyak wanita2 yang bersedia nikah sama bule sebelum benar2 mengenal satu sama lain dengan harapan yang muluk tapi kenyataan berkata beda

      Like

      Reply

  3. Emaknya Benjamin br. Silaen
    Feb 09, 2017 @ 12:28:34

    Hai Diah salam kenal ya, selama ini saya jadi silent reader aja hehe, eh barusan ko lihat ada backlink ke blog saya, ya jadi memberanikan diri komen hehe 🙂 .

    Benar banget nikah dengan bule ga selamanya selalu indah. Saya dengan suami sebelum nikah hanya bertemu 3x trus langsung nikah dan saya pindah ke negara dia, habis berat di ongkos klo terbang melulu 😀 . Puji Tuhan beruntung dapat suami seperti yang kudoain selama masih single dulu. Walaupun ga bisa dipungkiri ada juga wanita2 yg ga beruntung ketemu bule yg ga baik sih.

    Like

    Reply

    • Diah
      Feb 10, 2017 @ 15:46:22

      Halooo mba salam kenal..!! Iya habis artikel yang mba tulis itu bagus untuk referensi supaya wanita indonesia lebih cermat sebelum menikahi bule. Nyatanya memang banyak yang gak seberuntung mba dalam kehidupan rumah tangganya setelah menikahi bule via ldr.

      Malah kasus terbaru temanku mesti mengungsi ke safe home karena suaminya pemabuk dan suka melakukan mental violence. Harapanku semoga kasus seperti ini gak banyak terjadi lagi kedepannya.

      Liked by 1 person

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

October 2015
M T W T F S S
« Sep   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: