Berbagi Tugas Rumah Tangga

Beberapa hari yang lalu gw baca satu artikel yang dishare oleh beberapa orang temen di facebook. Isinya tentang bagaimana seorang istri harus menerima keadaan dimana dirinya harus mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga, mengurus anak belum lagi bekerja. Sedangkan suami? Tugasnya hanya cari duit dan komplen kalau istri tidak becus mengurus rumah atau anak-anak. Gw yang bacanya kok merinding ya, menikah itu bukan berarti mengorbankan kebebasan kita sebagai seorang wanita dan mengabdi sepenuhnya agar pernikahan tetap berjalan mulus. Pernikahan terjadi atas kemauan kedua belah pihak baik suami maupun istri. Artinya segala bentuk biduk dalam rumah tangga ya dijalani berdua dong!

Kalau persamaan derajat gak mungkin diterapkan dalam kehidupan rumah tangga setidaknya sikap saling menghormati, menghargai, saling support dan saling bantu harus diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Masa-masa dimana suami mempunyai ‘derajat’ lebih tinggi daripada istri mestinya sudah berlalu seiring perkembangan jaman dan terbukanya wawasan wanita-wanita modern.

Selama 3 bulan menghilang dari dunia perblogan kehidupan gw benar-benar disibukkan oleh rutinitas belajar bahasa 6 jam sehari dan pergi kerja di malam hari. Kebayang dong capeknya kaya gimana, untungnya kegiatan belajar bahasa selesai berbarengan dengan summer holiday. Meskipun pekerjaan gw gak mengenal yang namanya summer holiday tapi paling gak gw punya waktu istirahat yang lebih panjang dirumah. Anyway, ketika gw dihadapkan sama masa-masa hectic yang 3 bulan pertama suami sangat supportive dalam artian gw dibebastugaskan dari tugas rumah tangga. Semua tugas rumah tangga diambil alih oleh Janne. Hasilnya memang rumah gak sekinclong dan serapi biasanya tapi at least sikap supportive lah yang gw butuhkan. Bukan sikap yang menjatuhkan dengan komplen karena gw gak memasukan piring kotor ke dalam dishwasher, gak membantu suami ketika masak atau bahkan karena gw gak sempat merapikan tempat tidur.

Gw dan Janne memang belum mempunyai anak sendiri tapi anak-anak Janne dari pernikahan sebelumnya selau datang setiap dua akhir pekan. Ketika anak-anak berada disini udah pasti keadaan rumah tambah gak enak lihat. Waktu masih menganggur biasanya bagian bersih-bersih gw yang mengerjakan dan Janne bagian masak atau sebaliknya.

Intinya kehidupan pernikahan yang sehat itu tercipta dari kerjasama yang baik antara suami dan istri. Ketika hak atau kewajiban salah satu pihak berat sebelah secara gak sadar akan mempengaruhi emosional pelakunya dimana hal ini dapat menyebabkan terjadinya hubungan yang gak sehat dalam pernikahan.

Advertisements

3 Comments (+add yours?)

  1. penulismalas
    Aug 09, 2016 @ 12:49:21

    baiknyaa semua dikerjain bareng2, setuju mbaa, dibagi bagi biar enak ngejalanin pernikahannyaa, syukurnya suami mbaa pengertian dengan kegiatan mba yaa,

    Like

    Reply

  2. mrspassionfruit
    Aug 10, 2016 @ 05:09:25

    Paling sebel nih kalau baca yang kayak kamu baca di socmed itu. Suaminya temenku katanya ganti popok anak aja nggak mau pokoknya tugas istri + suster deh katanya

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

August 2016
M T W T F S S
« Apr   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: