Curhatan Suka Duka di Sekolah

Holaa… setalah lama gak muncul di dunia per-blog-an karena terlalu ribet sama jadwal sekolah, kerja, vlogging, editing, belom lagi pekerjaan wajib sebagai seorang istri (fiuhhh…!!) hari ini gw kembali lagi.

Mumpung hari ini gw lagi bolos sekolah dan bed rest diatas kasur karena periodic pain terus bingung mau ngapain. Ngepoin status orang di Facebook udah, bagi-bagi like di Instagram juga udah, nonton vlognya orang-orang Indonesia di Youtube juga udah khatam. Terus tiba-tiba gw inget kalo gw punya blog *faktor umur bisa membuat orang pelupa loh!* akhirnya gw angkut laptop ke atas kasur dan mulai nulis deh 😊

Tulisan yang akan gw tuangin disini cuma sekedar curhatan belaka aja jadi dilarang baper apalagi terprovokasi. Secara hampir 1 tahun gw struggle di sekolah Finlandia dengan murid campuran antara imigran dan orang Finlandia asli, gw akan share pengalaman-pengalaman selama duduk di bangku sekolah ini. Baik pengalaman baik atau buruknya.

Pertama akan gw jelasin dulu kalau sekolah yang gw jalanin saat ini bukanlah sekolah wajib. Sekolah ini  diperuntukan bagi remaja yang udah lulus SMP tapi bingung mau melanjutkan kemana (disini setelah SMP murid bisa melanjutkan ke SMA atau ke vocational college), atau bagi yang perlu meningkatkan kapasitas belajar, atau bisa juga untuk yang memang niat masuk vocational college tapi belum tahu mau pilih ammatti (proffesion) yang mana.

Di sekolah biasanya murid-murid akan terbagi menjadi beberapa kelompok. Kebanyakan mereka akan bergaul berdasarkan bahasa atau negara asalnya. Secara gw adalah satu-satunya murid asal Indonesia di program sekolah ini alhasil jadinya gw menclok sana sini. Yang pasti gw lebih luwes di kelompok para imigran.

Semenjak adanya perang sipil di negara Siria beberapa tahun lalu, bisa dibilang pengungsi Siria mengisi sekitar 30% dari total murid imigran di program sekolah gw ini. Sayangnya kebanyakan dari mereka memiliki attitude yang buruk. Sering gw dibikin kesal atau dibikin gagal fokus saat belajar karena kebanyakan dari mereka menghadiri sekolah hanya untuk bermain-main, atau supaya tetap mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Gw sering bertanya pertanyaan yang sama ke teman-teman imigran di sekolah. Apa rencana masa depan mereka? Kebanyakan jawaban yang gw terima adalah “gak tahu”. Malah seorang Siria bilang kalo dia berencana akan mengambil program sekolah untuk anak muda yang waktu studinya lebih lama demi mengulur-ulur waktu supaya gak perlu terjun ke dunia kerja. Karena selama belum kerja mereka akan tetap mendapat tunjangan uang dari pemerintah. Yang lain – masih dari pengungsi Siria – bilang kalau dia gak mau meneruskan sekolah tapi kantor ketenagakerjaan mewajibkan dia hadir di sekolah agar dia tetap mendapatkan tunjangan uang. Memang betul GAK SEMUA pengungsi dari negara tersebut mempunyai attitude yang sama. Tapi gw bisa bilang MOST OF THEM itu tipikal sesuai gambaran gw diatas.

Gw sendiri bukan murid yang paling rajin di sekolah tapi at least gw mengoptimalkan kesempatan yang ada demi bisa mendapat pekerjaan full time disini. Saat ini  selain sekolah gw juga menjalani pekerjaan part time 30 jam sebulan sebagai asisten pribadi. Bagi yang sensitif dengan tulisan gw ini mungkin gw terdengar rasis atau apalah-apalah karena hanya menekankan pengungsi dari Siria. Tapi kalo kalian baca lagi bahwa ada sekitar 30% murid-murid asal Siria di program sekolah gw dan ini membuat mereka sangat visible dan mencolok diantara murid lainnya. Ada juga kok imigran dari negara lain yang gak termotivasi untuk belajar atau bekerja. Tapi karena jumlah mereka lebih sedikit jadi gak terlalu mencolok.

Kalau dengan kelompok orang Finlandia sendiri gw jarang bergaul dengan mereka karena mereka sangat tertutup. Atau mereka bilang ujo (pemalu).

Namun dibalik kekesalan gw diatas ada juga kok pengalaman-pengalaman berharga yang gw dapat selama bersekolah. Seperti gak ditertawai satu kelas ketika kita melakukan kesalahan atau gak diejek ketika potongan rambut kita terlihat aneh. Di sekolah setiap orang bebas berekspresi tanpa mendapat bully-an dari teman-temannya. Meskipun bully masih ada tetapi jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah di Jakarta frekuensinya sangat jarang. Jadi inget waktu jaman gw sekolah gw selalu menjadi target bully karena tinggi gw yang diatas rata-rata, karena leher gw yang panjang, karena badan gw yang terlalu kurus, atau karena gaya bicara gw yang lemah lembut. Selain itu kita juga bebas memiilh mata pelajaran apa yang ingin dipelajari. Kalau gak suka dengan pelajaran eksak ya gak perlu diambil. Nilai juga bukan standar apakah seseorang itu pintar atau bodoh. Karena guru akan memberikan poin dari tugas-tugas yang diberikan. Selama kita mengerjakan tugas tersebut, poin kita aman.

So, terlepas dari sikap teman-teman di sekolah yang suka bikin kesel sendiri, overall gw nyaman dengan dunia pendidikan di negara ini. Meskipun perjuangannya lebih berat di segi bahasa. Segitu dulu curhat dari unek-unek yang terdalam. Jangan lupa kalau tulisan ini hanyalah berdasarkan opini gw semata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2017
M T W T F S S
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: